Minggu, 22 Januari 2012

MITOS



1.       Sigindo Gerinting (Sigindo Batinting), di pulau sangkar

Menurut cerita turun temurun, “hidup orang tuo meninggalkan kata, mati orang meninggalkan amanat (pesan)”. Demikian ceritanya : di pagaruyung terjadi peristiwa kerajaan, antara anak dan bapak. Sang anak bengisnya telah begitu memuncak, sehingga terjadi pertengkaran. Dengan peristiwa yang demikian si anak merasa malu dan rasa tidak puas sehingga menyiapkan diri untuk meninggalkan kerajaan pagaruyung dan terus menuju gunung kerinci. Akhirnya sampai ke daerah renah alam kerinci. Beliau berangkat dengan keluarga beserta rombongan, antara lain membawa orang dari nagari selampaung sebagai teman dalam perjalanan.
Karena gagah dan perkasanya, orang tersebut di daerah kerinci hulu mendapat gelar Tan Siah Sigindo Siah Rao karena kerjanya menyiah batang merao. Siah kiri siah kanan menyiah batu dengan batang, dan akhirnya menetap di jerangkang tinggi, yaitu dekat dusun Muak sekarang. rupanya di jerangkang tinggi ada tiga orang penguasa dikala itu yang juga gagah dan perkasa, yaitu Kerengo Bungkuk, Lemutung Hitam, dan Tebun Tandang. Dalam perebutan kekuasaan terjadilah perkelahian yang sengit. Alhasil dalam perkelahian ini “meninting balui” dengan arti kata tidak ada kalah-menang, kesudahannya mengadakan perundingan damai dengan cara menyabung ayam. Masing-masing menghimbau tuah. Sigindo Siah Rao menghimbau tuah sambil menghentakkan tongkatnya yang mana di ujung tongkatnya tersebut berisi tanah dari pagaruyung.
Tuah dihimbau: “kalau tidak ada ujung tanah pagaruyung tentang ini kalahlah saya, kalau Sigindo Siah Rao. Karena di ujung tongkat ada berisi tanah dari pagaruyung.
Setelah menang beliau mendapat gelar Sigindo Gerinting (Sigindo Batinting), karena beliau tahan “tinting” (tahan dari segala-galanya maupun dari senjata tajam atau dari pukulan apa saja dalam perkelahian antara tiga lawan satu).
Kemudian beliaulah yang mengatur pemerintahan. Beliau pindah dari jerangkang tinggi dan menetap tinggal di atas sebuah pulau di pinggir Batang Merangin.
Yang mana tempat ini beliau beri nama “Pulau Sangkar”, sedangkan yang beliau tinggalkan di Pagaruyung, “Batu Sangkar”. Orang-orang yang telah kalah menjadi sahabat karib.
Karenggo Bungkuk, di tempatkan di Lubuk Paku dan bergelar Menggung.
Lemutung Hitam, tetap di Jerangkang Tinggi (Muak) dan bergelar Rio.
Tebun Tandang, berdampingan dengan beliau yaitu dusun Pondouk dan bergelar Mangku.
Sedangkan orang-orang yang dibawa beliau dari Selampaung Pagaruyung tetap sebagai teman hidupnya, akhirnya pindah membuat dusunya. Sampai sekarang bernama Selampaung.

2.       Asal Usul Nama KERINCI

Ada tiga pendapat mengenai hal ini :
-          Dikala Datuk Paduko Berhalo tinggal di tepi danau Kerinci, yakni di Sanggaran Agung sekarang ini. Beliau kehilangan sebuah kunci yang jatuh ke dalam sebuah sungai dan bersusah payah mendapatkan kunci tersebut kembali, sehingga beliau ini menamakan sungai “Batang Kunci” dan akhirnya sungai ini populer disebut Batang Kerinci (Air Kerinci).

-          Sebagian ahli sejarah Kerinci berpendapat dari bahasa jawa.
Sungai Kerinci. Kering – Ci. Ci= sungai. Populer dengan sebutan Kerinci.
-          Karena daerah Kerinci terletak pada satu dataran tinggi yang dilingkungi oleh Bukit Barisan. Di musim panas, kering. Di musim hujan, cair. Kering Cair (Kerinci)



3.       Kuburan Keramat Tiang Bungkuk Mendugo Rajo

Pada zaman dahulu, di kerinci ada seorang adipati, adipati adalah gelar seorang pemimpin tertinggi dalam daerah kerinci, pusat pemerintahannya berada di Tamiai dan pada zaman itu kerinci telah menjalin hubungan erat dengan kerajaan mataram di jawa. Adipati kerinci yang pertama (Tiang Bungkuk Mendugo Rajo) minta kepada pusat kerajaan mataram supaya mengirim “kain kebesaran” Adipati. Dikirimlah kain kebesaran Adipati untuk Kerinci sebanyak 4 (empat) helai. Di tengah perjalanan kain tersebut dicopot oleh Raja Jambi, dengan maksud Jambi sendiri yang mengantar kain tersebut.
Terbetik berita dapat kabar oleh Tiang Bungkuk Mendugo Rajo, bahwa kain kebesaran sudah dicopot maka amarah beliau memuncak, sehingga “kalau berletuk (berjantung) pisang menghadap daerah Jambi ditebasnya, kalau berkokok ayam menghadap daerah Jambi dipancungnya hidup-hidup”. Dan terakhir beliau mengumumkan, ultimatum perang dengan Jambi.
Oleh Raja Jambi untuk pertama kali mengirim beberapa orang dubalang-dubalang pilihan  guna menangkap Tiang Bungkuk Mendugo Rajo hidup atau mati, sekurang-kurangnya kepalanya dibawa ke Jambi. Namun, apa yang terjadi? Semua dubalang-dubalang pilihan saat mengadakan tangkap-menangkap dan perkelahian sengit, semuanya disapu bersih oleh Tiang Bungkuk dengan keris saktinya. Kemudian serangan yang kedua, Raja Jambi memilih lagi dubalang-dubalang yang ternama, antara lain dipilih Jenang yang 40 dari Jambi sembilan lurah. Dalam serangan kedua ini juga Jenang yang 40 hilang raib padam berito, semuanya terkubur di Tamiai.
Mendengar ini Raja Jambi kewalahan. Untuk kali yang ketiga, Raja mengumpulkan staf pemerintahannya dan dubalang-dubalang dengan mengadakan musyawarah. Raja mengemukakan, siapa diantara mereka yang sanggup menangkap Tiang Bungkuk. Seorang ahli diplomat kerajaan, cerdik cendekiawan jaris bijaksana, Pangeran Temanggung menunjuk tangan. Dia sanggup menangkap Tiang Bungkuk dengan syarat, yaitu,
beri saya baju kebesaran kerajaan, yang terbuat dari sutera dan bersulamkan benang emas, sehingga menyilaukan mata saat memandangnya dan beri saya dubalang-dubalang yang terpilih lagi kuat, sebab Pangeran Temenggung sudah memikirkan masak-masak. Tiang Bungkuk dengan kerisnya tak mudah dikalahkan begitu saja. Semua permintaan Pangeran Temenggung dikabulkan oleh Raja Jambi.
Setelah segala sesuatunya siap, sesampainya Pangeran Temenggung dan kawan-kawanya di suatu tempat, yakni “serpih” yang sekarang ini, terletak antara Jambi dengan Kerinci, Pangeran Temenggung pergi “tarak” (mengadakan pertapaan di puncak sebuah bukit) dengan hasratnya, “kalau berhasil rencana saya “nyerpihlah” bukit ini. Lamalah sudah pertapaan dilakukan, akhirnya bukit itu “nyerpih/terbelah”. Sampai sekarang bukit ini bernama “serpih”. Pangeran Temenggung sudah mengambil kepastian, bahwa rencananya akan berhasil. Maka Pangeran Temenggung dan kawan-kawannya dubalang-dubalang pilihan berangkat ke tempat Tiang Bungkuk di Tamiai. Sesampai di Tamiai Pangeran Temenggung mengutus beberapa orang untuk menghadap Tiang Bungkuk, dan Tiang Bungkuk berkata: “berapa orang lagi dubalang yang mau tewas?”. Utusan menjawab: “kedatangan kali ini tidak hendak mengadakan cekak-kelahi (perang), kedatangan kali ini adalah hendak berunding”. Tiang Bungkuk mempersilahkan para tamu datang dan meladeni para tamu itu dan mengadakan perundingan. Isi perundingan :
Kami datang. Pergi yang dilepas. Jika balik yang di nanti. Dilepas (di utus oleh Raja) pergi dengan pelepasnya, balik dengan penantinya. Jika pergi tampak punggung, jika datang tampak muka, seraya menunjukkan baju kebesaran dengan di iringi perkataan lemah lembut. “baju ini adalah baju kerajaan, yang kami sembahkan untuk Tuan kami akui menjadi Raja daerah ini Paduko Tiang Bungkuk Mendugo Rajo”.
Mendengar pengakuan tersebut Tiang Bungkuk berbesar hati, dengan tak sadar baju di ambil dan langsung di kenakan. Ketika Tiang bungkuk mengarungkan lengan baju dan tertutup matanya oleh baju, Pangeran Temengung memberi isyarat kepada dubalang-dubalang pilihan : “perintah tangkap!”.
Tiang bungkuk malang bagi dirinya. Dia diringkus dan mencoba dengan kekuatan bathinya hendak membela diri, tapi apa daya tikus seekor, pemenggal seratus, semuanya jadi sia-sia apalagi keris saktinya sedang tidak di tangannya. Tiang Bungkuk dikeroyok oleh Pangeran Temenggung dan kawan-kawannya namun semuanya tidak ada yang mempan. Akhirnya dalam keadaan terikat, di usung bersama-sama ke Jambi. Di dalam perjalanan Tiang Bungkuk mengalami siksaan yang amat sangat. Sampai di Muara Masumai, Tiang Bungkuk diikat dan dibenam di bawah rakit. Sesampainya di Jambi, Tiang Bungkuk tetap dalam keadaan sehat, sekali pun telah beberapa hari tidak diberi makan dan minum. Di Jambi, Tiang Bungkuk mengalami siksaan demi siksaan. Akhirnya karena penderitaan Tiang Bungkuk sudah memuncak, maka beliau mengajukan satu permohonan terhadap Raja Jambi, yakni “sebelum saya menghembuskan nafas terakhir, saya ingin sekali mencicipi makanan dari Kerinci”. Oleh Raja Jambi permohonan beliau ini dikabulkan dan mengutus beberapa orang dubalang untuk berangkat ke Kerinci (Tamiai). Segala pesan beliau tersebut disampaikan kepada istri Tiang Bungkuk, yakni Nai Meh Bulan. Oleh seorang istri yang arif-biaksana, “kilat cerminlah ke muka, kilat beliung lah ke kaki”. Maka dimasaklah lemang, di dalam lemang di masukkan keris sakti , dan di buat lepat, di dalam lepat di isinya “pisau rencong” sakti untuk membunuh orang kebal (keramat). Setelah semuanya selesai dibungkuslah lemang dan lepat baik-baik agar rahasianya jangan sampai bocor.
Sesampainya di Jambi dipersembahkan kiriman dari istri Tiang Bungkuk kepada Raja Jambi. Maka Raja ingin mengetahui isinya, apa nian kiriman tersebut, lemang dibelah dan toh ternyata dalam lemang berisi keris dan lepat dibuka, ternyata dalam lepat berisi pisau rencong. Tiang Bungkuk dibawa menghadap Raja Jambi. Raja Jambi mengemukakan pendapatnya, yaitu keris dan pisau rencong kepada Tiang Bungkuk, Tiang Bungkuk sendirilah yang menyatakan : “itulah satu-satunya senjata yang mempan membunuh saya, andaikan senjata itu kalau dapat saya rebut darimu, Jambi Sembilan Lurah akan saya selesaikan, dan sekarang saya relakan nyawa saya”. Dengan keris pusakanya sendiri Tiang Bungkuk diselesaikan ajalnya. Sebelum nyawa bercerai dengan badannya Tiang Bungkuk menyampaikan pesan terakhir,
“ bilamana kelak anak-cucu atau keturunan saya mandi di atas kuburan saya, kuatnya lebih dari saya, saktinya berlebih dari sakti saya ”.     
Mendengar ini, menjadi pesan dendam dan sumpah bagi Raja Jambi sampai kepada turunan Raja Jambi. Tidak akan menunjukkan “Kuburan TIANG BUNGKUK MENDUGO RAJO” sampai sekarang ini.

1 komentar:

  1. waah.. kebetulan. lagi butuh bgt.
    like thiss bgt deh.

    BalasHapus